Jak51 & people I don't know
Hari ini bukan yang pertama kali saya menggunakan Jak51, mobil Carry merah serupa angkot yang mengantarkan banyak manusia dari Taman Kota ke Budi Luhur.
Tapi hari ini berbeda, hari ini terasa lebih ramai daripada biasanya. Ramai bukan karena banyaknya manusia yang ada di dalam angkutan ini. Tapi ramai karena interaksi yang tercipta dari setiap manusianya.
Seperti Bunda Suci dan Bapak Orang Minang yang berlari untuk bisa mengejar angkut ini. Bunda Suci seorang guru Bahasa Mandarin dengan nama keluarga 'Liong', umurnya sudah 70 tahun. Sedangkan Bapak Orang Minang, hanya ayah dari 2 anak manusia yang saya tahu.
Percakapan mereka berdua awalnya membuat saya terganggu, kenapa begitu berisik. Bunda Suci duduk di depan saya, sedangkan Bapak Orang Minang duduk di bangku paling ujung angkut ini.
Tapi anehnya saya menyimak percakapan mereka, mulai dari ijazah Bunda Suci yang hilang sejak ia pergi dari Cina. Dilanjut pesan Bunda Suci kepada Bapak Orang Minang agar anak-anaknya dapat pendidikan sampai S2 dan beberapa cerita singkat di perjalanan 10 menit mereka.
Ternyata bukan hanya saya yang menyimak, Bapak Sepatu Boot dan Bu Tuti yang pakaiannya begitu rapi juga ikut menanggapi. Mereka berdua memotong pembicaraan dengan "Kalo ada biaya ya pasti S2 Bu, tapi kan mahal" ucap mereka untuk Bunda Suci.
Bunda Suci bahkan menawarkan bantuan untuk mereka jika anak-anaknya mau berkuliah, tentu dengan beberapa syarat yang diucapkan Bunda Suci dengan aksen mandarinnya.
Percakapan jadi sedikit tegang di antara mereka, namum tiba-tiba Bapak Tarigan Si Sopir Angkut tiba-tiba nyeletuk "Saya Tarigan Bu Suci" entah apa maksudnya. Apakah ini masih bagian dari topik kuliah S2 atau yang lain. Tapi kerandoman itu cukup membuat kami yang ada di angkut ini tertawa.
Bunda Suci dan Bapak Orang Minang tidak lama setelah itu turun dari angkut, diikuti banyak orang lainnya. Karena bangku depan angkut juga kosong Pak Tarigan meminta Bu Tuti untuk duduk di depan "Ayo Bu Tuti pindah ke depan". Saya cukup bingung, bagaimana manusia-manusia ini saling berkenalan. Taman Kota ke Budi Luhur itu jauh, bukan satu area kecil yang mudah untuk saling mengenal.
Bu Tuti sempat bertanya kenapa, Pak Tarigas menjawab "Saya mau minta baju batik buat hari Jumat, batik saya robek". Wah, sedekat itu ternyata mereka.
Setelah percakapan itu saya mulai menulis cerita ini dan tentu saya tidak lagi menyimak percakapan mereka.
Jaklingko, Jak51, moda transportasi yang dibuat untuk menghubungkan satu moda ke moda yang lain. Tapi ternyata misinya lebih dari itu, Jaklingko juga menghubungkan kita, manusia-manusia yang tidak saling mengenal.
Komentar
Posting Komentar
It would be great to receive your comments :)