Gagal, Ditolak, dan Sendiri
Catatan, ini bukan tentang cerita cinta.
Obrolan saya dan seorang teman melalui pesan singkat hari ini cukup dalam, terlalu dalam bahkan untuk obrolan sebelum sarapan. Sebuah topik yang biasanya baru muncul setelah 2 atau 3 jam obrolan di tengah malam.
"Berani gagal itu didikan atau sifat bawaan?" tanyanya.
Saya berpikir
Naluri manusia akan selalu membawa kita ke situasi yang aman, jauh dari ancaman, resiko, juga sebuah kegagalan. Tapi apakah akan selalu seperti itu? Saya rasa kita tahu jawabannya.
Sebagian dari kita mungkin terdidik untuk siap menghadapi kegagalan secara sadar. Tapi sebagian lain 'dipaksa' untuk siap gagal demi memyelamatkan perannya.
Kegagalan, penolakan, situasi yang kita semua alami. Tapi bagi sebagian kita, ini seperti luka yang lama.
"Tak apa, kamu akan jadi orang yang tangguh" kata mereka.
Mungkin benar, tangguh, bagi orang lain. Jika ada cermin, mungkin ia akan berkata "Kamu terlihat menyedihkan".
Terlalu banyak cerita yang membentuk benteng itu. Terlalu tebal hingga sulit ditembus, kokoh, dan tidak bercelah.
Satu-satunya alasan adalah untuk menyelamatkan perannya.
Jangan berpikir ia egois, ini ceritanya, biarlah ia yang memutuskan kapan benteng itu dibuka untuk sebuah kesempatan.
Komentar
Posting Komentar
It would be great to receive your comments :)