Ceritain Sumba | Eps. First Things First, Impression
Sekitar sebulan yang lalu gua pergi ke Sumba, tepatnya Sumba Timur untuk sebuah proyek sosial. Niatnya gua bakal nulis setiap hari tentang apa aja yang gua lakuin disana, tapi ya apa daya. Niat dan raga tidak mau berkerjasama. Jadi sekarang gua mau ceritain ngapain aja gua disana dan bagaimana perjalanan ini ngubah cara pandang gua tentang hidup. Tepatnya bagaimana 56 hari di Sumba ngebuat gua lebih menerima diri gua sendiri.
First Things First, Impression
Sebenarnya Sumba Timur bukan satu-satunya tempat yang bisa gua datangi. Ada ratusan kota lain yang bisa gua pilih, tapi entah kenapa gua langsung pilih kota ini. Ralat, kabupaten bro sis. Lanjut, sebagai manusia yang perjalanan terjauhnya mentok di Jakarta-Surabya-Bali dan Bali-Surabaya-Jakarta aja, pastilah gua search di Gugel "Sumba Timur" karena jujur aja, gua ngga tahu apa-apa tentang tempat ini.
Setelah cari-cari yang gua temuin cuma pantai-pantai, perbukitan indah, kain, dan padang rumput dimana-mana. Ya jelas bahagia dong gua "Wah kerja berasa liburan banget ini men". Tapi tapi tapi, itu semua berubah setelah gua mendarat di sebuah bandara yang luasnya ngga lebih besar dari kelas gua waktu SD, dan konsep unfinish a.k.a ini bandara darurat banget men (yang ternyata bandara aslinya rusak karena badai seroja, search!). Ditambah lagi perbukitan tandus dengan rumah-rumah kayu yang gua lihat dari pesawat sebelum mendarat, sangat-sangat berhasil ngebuat gua dalam hati bilang "Tuhan, GUA NGAPAIN KESINI! NGAPAINN!!".
Serius, gua langsung ngitung sisa duit di tabungan untuk bisa beli tiket balik. Ya mungkin lu berpikir "Ini manusia lemah amat" tapi ya gimana, ini sama sekali bukan Sumba yang gua lihat di Gugel. Ngga ada tuh muncul bandara yang kayak gini, ngga ada tuh muncul bukit-bukit yang kering, ngga ada sama sekali visual kayak gini di otak gua. Ditambah lagi, gua lupa antara jam 5 atau 6 sore gitu ini bandara tutup men, tutup bisa lu bayangin ngga?
Tapi di satu sisi gua bahagia banget bisa kasih kesempatan ke diri sendiri untuk kerja (dibaca kabur) di Sumba Timur. Gua menikmati gaya hidup kembali ke dasar, yang penting-penting aja. Melihat bagaimana masyarakat disini puas dengan apa yang memang sudah mereka miliki.
Kalo disini seramai kota-kota yang gua tinggali saat ini, ngga bakal gua punya kesempatan lihat bintang dilangit sebanyak itu (memang ngga dihitung, biar lu penasaran). Udara segar yang ngga cuma ada di waktu subuh. Gua bisa lihat sapi-sapi, kambing, babi, kuda, sampai kerbau yang kalo masuk kamar kosan gua, itu kerbau dijamin ngga bisa duduk. Ya ya banyak hal yang lebih membahagiakan dibanding kesan pertama gua tentang bandaranya.
Ini random tapi kalo lu cuci baju dan jemur disini, hasilnya dari sameday sampe samehour juga bisa. Nah bayangin dah haha..
Meskipun kesan pertama gua bukan yang gua inginkan, tapi ternyata ini cuma berlangsung beberapa jam sebelum akhirnya gua ketemu orang-orang yang sangat sangat sangat baik.
Gua ceritain besok, woke?
-
Kamu bisa dengerin cerita lainnya di After Friday Podcast yang bakal update episode setiap Jumat malam. Dan kalo kamu mau cerita sesuatu, langsung aja @_yophrm.
Hope you ok right now, see yoo.
i'm waitinggg
BalasHapusWah, thank you :)
Hapus