Cerita Pinggiran Nasi

Beruntung karena gua punya waktu untuk diri sendiri. Bukan untuk melakukan hal sesuka hati, tapi untuk lebih mengenal diri gua sendiri. Dan ini menyangkut hal sederhana yang ternyata cukup dalam maknanya buat gua. Ini cerita tentang pinggiran nasi, ya pinggiran nasi di mesin penanak yang selalu kering dan terbuang pada akhirnya.


Gua baru sadar ketika beberapa tahun lalu gua makan di rumah teman gua, dan dia sadar kalo gua ambil nasi dari pinggirnya. Dia bilang "Ngapain ambil dari pinggir yang kering, kan masih ada yang di tengah". Gua waktu itu dengan santai jawab "Ya kalo makin kering, makin ngga dimakan terus kebuang". Gua ngga sadar kalo kebiasaan ini berlanjut menjadi suatu hal yang begitu serius dan mempengaruhi cara pandang gua, khususnya pada seseorang.

Semakin dewasa, semakin gua paham tentang apa yang membentuk gua di masa lalu, termasuk soal pinggiran nasi. Kerennya Ibu gua ngolah duit atau apapun yang ada di rumah untuk kelima anaknya bisa makan adalah hal paling ngga masuk akal dari apapun yang pernah gua lihat. Makan-makanan yang sama, selalu pakai tepung dan air untuk buat makanan lebih banyak, lebih pilih suapin anak-anaknya bukan karena manja, tapi biar semua anaknya kebagian. Dan pinggiran nasi adalah salah satu cara gua untuk bersyukur atas apa yang sudah gua miliki.

Gua yakin satu diantara kamu yang baca mungkin mengalami hal yang sama. Dan gua yakin kalo lu saat ini pasti lebih menghargai apapun yang ada di hidup lu.


-
Kamu bisa dengerin cerita lainnya di After Friday Podcast yang bakal update episode setiap Jumat malam. Dan kalo kamu mau cerita sesuatu, langsung aja @_yophrm.

Hope you ok right now, see yoo.



Komentar

Posting Komentar

It would be great to receive your comments :)