Cursing Box
Ini cerita tentang kotak yang menerima cacian dan semua umpatan.
Ketika saya kecil, mungkin umur 7/8 tahunan saya pernah berpikir untuk membuat buku harian. Entah karena pengaruh film atau karena iseng saja, biar hidup seakan 'pemeran utama'.
Tapi karena menulis adalah hal yang sulit untuk saya yang masih labil. Saya mengganti buku itu dengan sebuah celengan keramik kotak, hadiah dari salah satu bank tempat salah satu anggota keluarga saya bekerja.
Tentu celengan itu tidak diisi dengan uang, tapi dengan potongan kertas yang berisi kemarahan dan kekecewaan saya saat itu.
Ketika saya marah dan kecewa tentang apapun di sekolah, rumah, atau sedang menjadi 'pesuruh' disuatu tempat. Saya menuliskan kemarahan dan umpatan saya pada secarik kertas yang terus saya masukan ke celengan keramik itu.
Hebatnya, dengan seketika semua kekesalan itu seakan tidak pernah terjadi.
Bertahun-tahun celengan ini membantu saya untuk mengolah amarah saya, membantu saya untuk mengatur mana yang baik dan buruk, mana yang mungkin akan menyakitkan untuk orang lain, dan mana yang mungkin lebih baik saya simpan sendiri.
Ketika keluarga saya memutuskan untuk berpindah, saya menemukan celengan ini di rak kamar yang lama tidak saya tinggali. Saya membuka penutup di bawah celengan itu dan mengambil banyak sekali potongan kertas yang berisi kalimat-kalimat 'putus asa anak sekolah dasar'.
Saya kagum, kagum bagaimana anak sekecil itu menahan begitu banyak amarah tanpa sedikitpun membuat orang lain tersakiti.
Saya kagum bukan pada saya, tapi kamu juga. Kamu yang mampu bertahan sampai hari ini, yang menahan sakit untuk orang lain.
Terima kasih, untuk kamu.
Komentar
Posting Komentar
It would be great to receive your comments :)