Susan, what do you want to be when you grow up?

Susan, Susan, Susan, besok gede mau jadi apa?
Aku kepingin pinter, biar jadi dokter!

Wkwkwk... 
Lagu lama yang seharusnya anak 20an sekarang masih tau lirik lengkapnya. Btw sadar ngga sih kalo sekarang lagu anak-anak minim banget? Artis cilik pada hijrah jadi pemain sinetron sepertinya hehe.. canda.

Tapi bukan itu fokus utama yang mau saya, aku, gua omongin. Tapi tentang cita-cita, kata-kata yang paling sering ditanyain kalo stranger lagi ngobrol sama anak PAUD tapi kehabisan topik.

"Cita-citanya apa?"

Dulu waktu masih kecil nih, kalo ditanya gini gua jawabnya cepet "Supir Trukkk!!" Haha.. aneh bukan? Tapi itu cita-cita yang paling gua inget setelah menjadi arsitek, arkeolog, dan orang kaya tentunya.

Dulu kita gampang banget untuk mengutarakan keinginan menjadi siapa kita waktu gede nanti. Pada masa itu kita semangat dan ngga malu kalo sebenarnya cita-cita kita dianggap 'sampah' sama orang lain. Dulu kalo ada yang nyalahin cita-cita kita kayak "Kok supir truk, kenapa ga pilot aja?" kita dengan santai jawab "Why not?" (canda, dulu masih bocah ngga bisa ngomong Inggris wkwkwk..)

Sebebas dan sebodo amat itu kita dulu.

Tapi sekarang apakah semangat dan kesotoyan waktu kita kecil dulu masih sama?

Jangankan ada semangat membara, berapa banyak sih anak 20an yang punya cita-cita dan ngga jawab "Lihat aja nantinya kemana" Berapa? Berapa gua tanya?

Bukannya skeptis, tapi itu kenyataannya. Kita yang dulu bukanlah yang sekarang (bukan lagu). Kita yang ngga peduli omongan orang, sekarang jadi yang paling pertama merasa kalo like di IG adalah penanda kesuksesan.

Semakin dewasa, semakin kita banyak tahu tentang dunia, tentang realita yang baik dan buruk. Kita menyadari bahwa untuk mencapai suatu garis akhir ada ratusan, ribuan, atau jutaan kegagalan dulu yang harus kita bersama lewati. Tapi, apakah ini bisa jadi dalih kita untuk berhenti atau bahkan ngga berani untuk bermimpi?

Gua inget ada kata-kata mutiara dari salah satu manusia di bumi yang mohon maaf saya tak ingat namanya siapa.

"Lebih baik punya cita-cita tapi itu ngga terwujud, daripada ngga punya cita-cita dan itu terwujud"

Analogi yang sama ketika kita punya mimpi, kita akan berusaha melewati tahap-tahap kehidupan. Meskipun kita ngga sampai akhir, setidaknya kita sudah ada di tahap yang lebih baik dari waktu kita memulainya dulu. Tapi kalo ngga punya mimpi, jelas kita akan berdiri di tahap yang sama dan ngga menjadi lebih baik.

Realita yang pahit bukan alasan yang tepat untuk kita ngga punya mimpi. Yang membuat kita gagal bukan soal apa yang ada disekitar kita, tapi tentang bagaimana kita menyakini mimpi kita untuk menjadi apa nantinya. Ini bukan soal cita-cita yang muluk-muluk, tapi ini tentang menjadi versi terbaik kita di kehidupan ini.

Ayo bangun, scrolling terus gpp tapi jangan lupa untuk memulai juga di dunia nyata ya.

Btw lagu Susan kalo diinggrisin kok jadinya panjang ya?


Kalo capek baca, kamu bisa dengerin di After Friday Podcast yang bakal update episode setiap Jumat malam.

Kalo mau cerita lewat DM or anything gua ada disini, disini, dan disini.

Komentar