Last massage
Hi, saya akan membagi sebuah cerita lama yang sudah usang namun sayang untuk dipendam.
Berawal dari suatu sore ketika awan sendu menunjukkan kehadirannya dan saya sedang terkagum melihatnya. Sayang, sepertinya sore tidak mengijinkan saya memandanginya lebih lama. Cahaya terang sebentar muncul dari layar ponsel, tanda pesan baru masuk dari nomor yang tidak terdaftar di ponsel saya.
Pesan singkat itu berisi,
"Hei Yok, Apa kabar? Lama kita ngga ketemu. Aku mau lamaran Yok, bulan depan nikah. Kamu wajib datang ya!"
Tentunya ditulis dengan bahasa Jawa 'kasar' yang sudah jelas darimana asalnya.
Sejenak saya berpikir "Siapa manusia ini? Apakah salah alamat?", suasana Terminal 2 Juanda yang ramai seketika menjadi diam dan seakan membantu saya untuk mengingat.
Ah ya, saya ingat! 'manusia ini' adalah kawan yang telah lama sekali telah menghilang. Kawan yang beberapa tahun terakhir saya berusaha keras untuk mencarinya. Tapi sepertinya dia yang lebih dulu berhasil menemukan saya.
Ya, saya sangat bersyukur akan itu.
Satu kata yang terlintas di pikiran saya yang telah lebih dulu lelah membuat daftar pekerjaan setelah saya mendarat nanti.
"Kenapa?"
Kenapa kawan yang ketika kita bersama, seperti melihat Owen Wilson dan Vince Vaughn yang saling membodohi dan menyemangati di saat yang bersamaan. Dan kawan itu sekarang memutuskan untuk menikah.
"Kenapa?"
Pertanyaan saya bukan,
"Kenapa kamu menikah di umurmu yang bahkan masih belum genap 20?!"
Tapi,
"Kenapa kamu menikah sekarang? Ngga ada lagi yang mau kamu cari?"
Ya saya tahu, pertanyaan saya masih seperti anak-anak 'sok idealis' yang merasa bahwa memiliki karir adalah segalanya. Mungkin saya yang salah, ketika saya menempatkan pandangan saya kepada dia yang mungkin memiliki pengalaman hidup jauh lebih keras dibanding saya.
Saya merasa kesal, kecewa, dan marah pada diri sendiri. Mengapa saya tidak bisa menjadi teman yang tepat untuk dia. Saya masih merasa bahwa keputusannya adalah sebuah kesalahan. Ya saya tahu, saya terlalu frontal menyampaikan kekecewaan saya. Mungkin ketika ini terjadi kepada orang lain, saya tidak akan sepeduli ini. Tapi dia kawan saya, kenapa harus seperti ini?
Sesaat kebahagian kembali bertemu berubah menjadi muram tanpa alasan. Saya memberinya ucapan selamat atas 'keberaniannya' membuat keputusan. Saya masih mencoba tersenyum melalui kata-kata, yang saya yakin diapun pasti menyadari bahwa itu bukan yang sebenarnya.
Lama kita berbincang tanpa suara, hanya melalui rangkaian huruf-huruf yang punya arti biasa. Lalu satu pesan terakhir yang dia kirim hanya berselang beberapa detik dari pesan sebelumnya.
"Kamu datang ya, kamu temanku. Aku sangat berharap untuk kamu datang di pernikahanku"
Dan ya, mungkin kamu bisa menebak kejadian selanjutnya. Saya bukan orang yang tahu ekspresi, saya sulit untuk menentukan di saat seperti apa saya seharusnya sedih dan kapan seharusnya saya tertawa. Tapi satu pesan ini, pesan dengan kata-kata sederhana yang sering manusia lain ucapkan menjadi begitu penuh arti.
Jika ruang tunggu ini hanya dihuni saya dan satu petugas di ujung sana, mungkin saya akan bersedih. Hanya bersedih, saya tidak mengatakan saya akan menangis. Satu kalimat ini menyampaikan banyak pesan bagi saya. Saya akhirnya tahu bahwa keberadaan saya ternyata berarti bagi orang lain. Dan yang terpenting, dia bahagia atas pilihannya.
Saya tau, buat kamu pesan ini mungkin hal biasa ketika seorang teman akan menikah. Tapi untuk pertemanan kami, kata 'teman' memiliki arti lebih dari sekedar bertegur sapa.
Saya merasa bodoh sekali, merasa saya yang benar dan merendahkan pilihannya. Jika dia tahu apa yang saya pikirkan saat itu, mungkin kedatangan saya justru menjadi murka untuk dia. Siapa saya memiliki hak atas pilihan kebahagiaan orang lain?!
Pesan terakhir saya,
"Saya bahagia atas pilihanmu. Jaga pasanganmu, karena kamu tidak lagi hidup untuk dirimu sendiri. Dan saya tahu jika kamu pasti akan melakukannya"
Saya matikan ponsel, masukan dalam tas gunung tua saya dan menghela nafas karena teman satu perjalanan saya memilih untuk bahagia dan berhenti. Saya yakin dia akan baik-baik saja, dia adalah penenang dalam pertemanan kami.
Yo,
Kalo capek baca, kamu bisa dengerin di After Friday Podcast yang bakal update episode setiap Jumat malam.
Komentar
Posting Komentar
It would be great to receive your comments :)